Oleh: Muhammad Aditya Prabowo
“Nama tokoh, tempat, dan beberapa bagian kisah dalam tulisan ini disamarkan. Tulisan ini bukan untuk menghakimi kelompok tertentu, melainkan menjadi refleksi bagi siapa saja agar lebih bijak dalam memilih lingkungan, organisasi, dan jalan hidup.”
Ada fase dalam hidup ketika saya meyakini bahwa kebenaran hanya berada di satu tempat. Di luar tempat itu, semua tampak keliru. Perbedaan dipandang sebagai penyimpangan, sedangkan kepatuhan dijadikan ukuran utama keimanan. Keyakinan tersebut tidak lahir dalam semalam, melainkan tumbuh perlahan melalui pertemuan, diskusi, dan lingkungan yang mampu menjawab kegelisahan hidup saya. Saat itu saya merasa menemukan keluarga, tujuan hidup, sekaligus jalan menuju kebenaran.
Perjalanan itu bermula ketika saya merantau dari sebuah desa ke kota untuk bekerja di sebuah bengkel mebel. Kehidupan saya sederhana hingga suatu hari seorang teman mengajak mengikuti sebuah kajian. Awalnya hanya obrolan tentang kehidupan dan agama, tetapi pertemuan demi pertemuan membuat saya semakin larut. Saya merasa diterima, dihargai, dan akhirnya memutuskan bergabung dengan komunitas tersebut. Sebagaimana banyak anak muda lainnya, keputusan itu lahir dari keinginan mencari makna hidup, bukan karena ingin merasa lebih baik daripada orang lain.
Komunitas yang saya ikuti memiliki struktur organisasi yang tertata rapi. Ada pembagian wilayah, kepemimpinan berjenjang, aturan internal, pola pembinaan, hingga sistem yang menyerupai pemerintahan kecil di dalam organisasi. Semua aktivitas berjalan dengan disiplin dan setiap anggota dituntut memiliki loyalitas tinggi. Pada saat itu saya tidak melihat ada yang janggal. Saya percaya bahwa keteraturan merupakan bagian dari perjuangan.
Seiring waktu, kepercayaan itu berubah menjadi pengabdian. Sebagian besar waktu saya tercurah untuk kepentingan organisasi. Saya dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar hingga memimpin salah satu wilayah. Di sisi lain, ruang untuk membangun kehidupan pribadi semakin sempit. Cara berpikir saya pun perlahan dibentuk oleh satu sumber yang sama. Saya mulai menyadari bahwa semakin tinggi loyalitas seseorang, semakin sedikit ruang yang tersedia untuk mempertanyakan kebijakan organisasi.
Pergulatan batin mulai muncul ketika saya melihat bahwa perbedaan pendapat sering dipandang sebagai bentuk pembangkangan. Kritik tidak lagi dipahami sebagai upaya memperbaiki organisasi, melainkan ancaman terhadap persatuan. Saat itulah saya bertanya kepada diri sendiri: apakah kepatuhan harus dibayar dengan hilangnya kebebasan berpikir? Apakah seorang pemimpin tidak boleh dikritik? Dan apakah sebuah organisasi memiliki hak untuk menentukan siapa yang paling dekat dengan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan lahir karena saya kehilangan iman, tetapi karena saya ingin memastikan bahwa keyakinan saya berdiri di atas pemahaman, bukan semata-mata rasa takut.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa organisasi, sebesar apa pun, tetaplah dibangun oleh manusia. Karena itu, tidak ada organisasi yang kebal dari kekeliruan. Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang membuka ruang dialog, menghargai kritik, dan bersedia melakukan evaluasi. Kesetiaan kepada nilai tidak boleh berubah menjadi kultus terhadap individu. Loyalitas kepada organisasi tidak boleh menghilangkan tanggung jawab seseorang untuk menggunakan akal sehat yang telah dianugerahkan Tuhan.
Saya juga belajar bahwa semangat memperjuangkan nilai-nilai kebaikan harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hukum negara. Indonesia menjamin kebebasan berserikat, tetapi setiap organisasi memiliki kewajiban untuk berjalan dalam koridor hukum. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati sebelum bergabung dengan kelompok mana pun. Jangan hanya terpesona oleh retorika, simbol keagamaan, atau janji keselamatan. Pastikan organisasi tersebut memiliki legalitas yang jelas, tata kelola yang transparan, kepemimpinan yang akuntabel, serta memberikan ruang bagi anggotanya untuk berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Legalitas bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bentuk pertanggungjawaban kepada anggota, masyarakat, dan negara.
Hari ini saya tidak mengklaim telah menemukan seluruh kebenaran. Saya juga tidak ingin mengganti satu fanatisme dengan fanatisme yang lain. Pengalaman ini hanya mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang berhak memonopoli jalan menuju Tuhan. Guru layak dihormati, pemimpin layak dihargai, dan organisasi dapat menjadi tempat belajar. Namun hati nurani, akal sehat, dan tanggung jawab pribadi tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada siapa pun.
Kini saya memahami bahwa kedewasaan beragama bukan diukur dari seberapa keras seseorang mengklaim dirinya paling benar, melainkan dari kerendahan hati untuk terus belajar, menghargai perbedaan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Pada akhirnya, jalan pulang bukanlah kembali kepada sebuah kelompok, melainkan kembali kepada Tuhan dengan hati yang jujur, iman yang matang, dan akal sehat yang tetap menyala. Sebab Tuhan tidak pernah meminta manusia mematikan akalnya; justru melalui akal itulah manusia diminta membedakan mana yang benar, mana yang keliru, dan mana yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan.



